WHAFF, Make Money From Android App...

...that can make you rich because these applications can make money on your android with the way you download a promo that is on offer on the application the whaff and you will get a reward worth $... - http://trustdinamic.blogspot.com/.

Jenis-Jenis Batu Akik yan...

...batu akik punya banyak jenis bahkan ada jenis-jenis batu akik yang paling banyak dicari para penggemar batu akik. Para penggemar batu akik ini bukan hanya memakainya tetapi mereka mengerti bahwa batu akik...- http://trustdinamic.blogspot.com/

DREADOUT, Game Indonesia yang sukses di...

...hanyalah sebuah game, ya game bergenre RPG. Game ini merupakan buatan pengembang game Indonesia yang berasal dari Bandung. Dreadout memiliki alur cerita dimana ketika sekelompok murid SMA...- http://trustdinamic.blogspot.com/

"Astronot" Pertama Asal Indonesia Akan Segera Terbang ke Antariksa

Rizman terpilih setelah mengalahkan 107 pria dan wanita dari 60 negara. Sebelumnya, ada tiga orang dari Indonesia yang mengikuti pelatihan, tetapi hanya Rizman yang berhasil melewati tahap tersebut...by Joshep Sitepu - http://trustdinamic.blogspot.com/

Kosong

Berusaha menyampaikan segala informasi dari segala hal yang diperoleh dari segala macam media dan dituangkan dalam sebuah Blog.This Blog is sponsored by Joshep Sitepu - http://trustdinamic.blogspot.com/

Rabu, 24 Februari 2016

Kisah Rio Haryanto : Menuju F1




Rio Haryanto akhirnya mewujudkan mimpinya untuk bisa tampil di Formula 1. Dia kini bakal satu arena dengan para pebalap top dunia seperti Lewis Hamilton, Sebastian Vettel, hingga Kimi Raikkonen.
Tapi, mimpi itu tidak terwujud dalam semalam. Pebalap 23 tahun itu mulai serius merintis karirnya hingga ke sirkus jet darat paling elit sejagat tersebut sejak berusia 13 tahun. Saat itu, sama seperti para pebalap F1 pada umumnya, nama Rio mulai menjadi perbincangan saat memenangi ajang balap gokar, Asian Karting Open Championship, pada 2006.
Dua tahun kemudian, dia mulai tampil di sejumlah balapan di bawah Formula 1. Balapan pertamanya adalah di ajang Formula Asia 2.0. Di tahun pertama, penghobi golf itu langsung meraih posisi ketiga hasil dari satu kemenangan dan tujuh podium. Performanya sangat mengesankan karena saat itu dia baru berusia 15 tahun!
Di musim selanjutnya, Rio mengikuti sejumlah ajang balap Formula dan sejumlah kejuaraan. Di antaranya Asian Formula Renault Challenge, Formula BMW Europe, dan Australian Drivers’ Championship.
Namun, prestasinya di ajang Formula BMW Pacific Championship adalah yang terbaik. Dia memenanginya setelah meraih 12 podium, termasuk 11 kemenangan dari 15 balapan.
Dari sejumlah ajang balapan Formula itulah, Rio memulai koneksinya dengan tim asal Inggris Manor Racing. Pada 2010, Rio memutuskan untuk hijrah ke level yang lebih jelas, GP3 Series, dengan bergabung ke tim tersebut.
GP3 adalah ajang balapan sebagai penyuplai pebalap ke level yang lebih atas, GP2 Series. Sementara, GP2 adalah balapan tepat di bawah Formula 1.
Banyak lulusan GP2 yang akhirnya promosi. Salah satu di antaranya adalah juara musim lalu Lewis Hamilton, Romain Grosjean (Renault), Nico Hulkenberg (McLaren), dan Marcus Ericsson (Caterham).
Di GP3, para pebalap mulai mendapatkan pengalaman layaknya pebalap F1. Sirkuit yang dijadikan balapan adalah sirkuit standar F1. Bahkan, marshal, infrastruktur, dan fasilitas medis sudah sesuai standar profesional.
Di tahun pertamanya di GP3 Series itu, Rio langsung membawa perubahan positif di timnya. Dia mengakhiri kejuaraan dengan finis di posisi kelima. Posisi terbaik dari semua pebalap Manor yang tampil. Prestasi tersebut membuat dia diberi kehormatan untuk menjajal mobil Formula 1 milik Marussia Virgin Racing di Abu Dhabi.
Sayangnya, test drive tersebut tidak berjalan sukses. Rio mengalami problem pada girbok. Dia harus puas menyelesaikan balapan di posisi paling buncit.
Dua tahun di GP3 Series tidak terlalu mengesankan bagi Rio. Namun, dia mampu menjaga posisinya di papan tengah. Meski tidak terlalu menonjol di GP3 Series, pada 2012 dia tetap memutuskan untuk naik kelas ke GP2 Series.
Keputusan itu diambil untuk semakin mendekatkannya pada Formula 1.
Sukses setelah empat tahun yang berat

Balapan yang pertama digelar pada 2005 itu memiliki standar yang hampir sama dengan F1. Kecepatan mobil tidak jauh berbeda. Sirkuit yang dipakai adalah sirkuit yang sama. Bahkan, di ajang itu, kalender langsung mengikuti agenda balapan F1.
Dua balapan (sprint race dan feature race) juga digelar sebelum dan sesudah balapan F1. Bahkan, sistem poin feature race mengadopsi langsung kasta tertinggi balapan mobil tersebut.
Selain itu, semua kompetitor di GP2 Series memakai sasis yang sama. Alhasil, kompetisi sangat ketat. Para juara dari berbagai cabang balap lain turut berpartisipasi di GP2 Series, seperti dari Formula Renault 3.5, GP3 Series, atau Formula 3.
Bahkan, mulai 2015 mobil GP2 Series dilengkapi perangkat Drag Reduction System (DRS) yang juga digunakan di F1. Alat tersebut bisa membantu mobil meluncur 15 km per jam lebih kencang.
Namun, tahun pertama tidak berlangsung mulus bagi anak pasangan Sinyo Haryanto dan Indah Pennywati tersebut. Bersama tim Carlin, dia tidak mencapai podium sama sekali. Dia pun hanya mampu menyelesaikan musim di posisi ke-14.
Tapi, para pengamat mulai melihat bakat terbesar Rio: raja hujan. Mereka melihatnya setelah dia mampu menjadi yang tercepat saat hujan turun di Sirkuit Spa Francorchamps, Belgia.
Tak sukses bersama Carlin, Rio hengkang ke tim Barwa Addax pada 2013 kemudian EQ8 Caterham Team pada 2014. Dua musim itu Rio tak banyak menorehkan catatan hebat. Dia hanya meraih dua podium dan tak bisa keluar dari posisi ke-15 di akhir musim.
Pada 2015 alias tahun keempatnya di GP2, Rio mulai mendapatkan titik terang. Jika keluhan di tahun-tahun sebelumnya adalah pada kendaraan dan tim yang tidak terlalu mendukung, kali ini tim Campos benar-benar memperlakukan Rio dengan baik.
Kendaraan Rio kompetitif. Staf dan tim juga lebih kooperatif. Hasilnya, Rio meraih lima podium. Tiga di antaranya dia berada di posisi puncak. Yakni saat balapan digelar di Sirkuit Bahrain, Bahrain; Sirkuit Red Bull Ring, Austria; dan Sirkuit Silverstone Inggris.
Padahal, sirkuit-sirkuit tersebut—terutama Sirkuit Silverstone—memiliki tingkat kesulitan tinggi. Model sirkuitnya lambat dengan banyak tikungan. Hanya pebalap dengan skill tinggi yang bisa menjuarainya.
Sepanjang musim, Rio sempat menguasai posisi ketiga klasemen sementara. Persaingan ketat dengan pebalap Rusia Sergey Sirotkin membuat dia harus puas berada di posisi keempat dengan selisih hanya satu angka. Sirotkin meraup 139 sedangkan Rio 138.
Dengan prestasi tersebut, tak ada momen yang lebih baik bagi Rio untuk promosi ke F1. Apalagi, Rio berhasil membuktikan bahwa jika dia dibekali kendaraan yang kompetitif, dia mampu bersaing di tiga besar.
Bersama Manor Racing, Rio akan mendapatkan mesin Mercedes. Pada dua musim sebelumnya, mereka menggunakan mesin Ferrari. Mercedes jelas memiliki mesin yang sangat kompetitif. Apalagi setelah balapan mengubah regulasi mesin menjadi V6turbo hybrid.
Juara dua musim berturut-turut, Lewis Hamilton, juga menggunakan penyuplai mesin yang sama.
Mesin yang sama juga mengantarkan Lotus bertempur di papan tengah. Sebelumnya, mereka menggunakan mesin Renault.
Tak hanya sokongan mesin yang membuat Manor bakal lebih kompetitif. Tapi juga kehadiran beberapa personil anyar. Tahun ini mereka akan diperkuat Direktur Teknis Mercedes Bob Bell dan duo eks Ferrari Pat Fry dan Nikolas Tombazis. Kehadiran punggawa anyar itu menunjukkan bahwa Manor memiliki ambisi.
“Manor akan membuat langkah besar. Tidak hanya karena mesin yang baru. Tapi juga sekelompok orang yang datang bersama-sama. Mereka adalah individu yang sangat mengesankan,” kata bos Mercedes Toto Wolff seperti dikutip GP Update.
“Saya rasa mereka akan menjadi penantang papan tengah yang kuat,” imbuhnya.
Kini, dengan sokongan mesin mumpuni dan doa rakyat Indonesia, sejauh mana Rio akan bersaing?


Sumber : Disini

Kisah Putra Sulung Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka


Putra sulung Presiden Joko Widodo(Jokowi), Gibran Rakabuming Raka (28), terbilang unik. Selain tak banyak mengumbar senyum, Gibran selalu menghindar dari sorot kamera. Setiap diwawancarai media, Gibran juga hanya mau membicarakan bisnisnya.

Dia sama sekali menjauhi dunia politik yang kini tengah digeluti sang ayah. Bagi pria kelahiran Solo, 1 Oktober 1987 itu, bisnis dan politik tidak bisa disatukan.

Sikap dingin Gibran itu bukan tanpa alasan. Sebab, sebagai anak Presiden, Gibran tidak ingin memanfaatkan posisi dan wewenang bapaknya. Sejak Jokowi menjadi Wali Kota Solo, dia ingin mandiri dalam berbisnis. 

"Bisnis dan politik jangan dicampur. Saya ingin bapak tetap bisa jalan, saya juga begitu," kata Gibran saat hadir dalam programMata Najwa di Metro TV yang tayang pada Rabu (24/2/2016).

Merintis bisnis sejak tahun 2010, Gibran sudah memiliki dua usaha di bidang kuliner, yakni bisnis katering dengan label "Chilli Pari" dan bisnis martabak dengan label "Markobar".

Gibran menuruni minat wirausaha dari Jokowi yang dulunya adalah pengusaha mebel. Namun, Gibran lebih menggeluti dunia kuliner karena dia melihat ada peluang lebih yang bisa diberikannya.

"Pikirannya waktu itu bapak punya Gedung Graha Saba, sudah belasan tahun berdiri, tetapi enggak punya katering. Punya gedung, tetapi enggak punya katering itu salah kaprah. Jadi, begitu saya pulang, saya bikin katering, simpel," ucap dia. 

Saat memulai bisnisnya bersama Chilli Pari, Gibran mengaku kerap didatangi pegawai-pegawai negeri sipil yang hendak mendekati bapaknya.

"Banyak orang datang, PNS, bilang begini ke saya, 'Mas, gampang kalau Chilli Pari berdiri, masukin ke Pemkot Solo, semua orderan akan masuk'," cerita Gibran.

Mendapat tawaran itu, Gibran bukannya tergiur. Dia langsung memerintahkan bagian marketing untuk menolak semua pesanan dari Pemkot Solo.

Banyak yang heran dengan sikap yang diambil Gibran itu. Namun, Gibran tak peduli karena pada kenyataannya Chilli Pari masih tetap eksis sampai sekarang. 

Saat Jokowi menjadi Wali Kota Solo, bapaknya itu memang berpesan kepada Gibran. Namun, sebagai anak, dia pun tahu diri untuk tidak mengganggu urusan ayahnya dengan bisnis yang dia lakukan. 

"Masih banyak pasar yang lain di luar Pemkot itu. Saya jualan makanan, jualan taste, bukan jualan Gibran anaknya Jokowi. Mereka pesan karena pelayanan dan rasanya," kata Gibran.

sumber : Disini

Minggu, 30 Agustus 2015

Manajemen Stres di Tempat Kerja

Stres di tempat kerja merupakan hal yang hampir setiap hari dialami oleh para pekerja di kota besar. Masyarakat pekerja di kota-kota besar seperti Jakarta sebagian besar disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas, tuntutan peran di tempat kerja yang semakin beragam dan kadang bertentangan satu dengan yang lain, masalah keluarga, dan masih banyak tantangan lainnya yang membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin untuk dihindari.
Stres di tempat kerja menjadi suatu persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan. Sebuah lembaga penelitian di Amerika memperkirakan bahwa stres di tempat kerja menyebabkan para pengusaha di Amerika terpaksa merugi sekitar 300 juta dollar Amerika setiap tahunnya akibat menurunnya produktivitas, serta meningkatnya ketidakhadiran, turnover, konsumsi minuman keras dan biaya pengobatan karyawan.
Stres di tempat kerja dapat menimbulkan berbagai konsekuensi pada individu pekerja. Secara fisiologis, pekerja dengan tingkat stres kerja yang tinggi dapat mengalami ganguan fisik seperti: sulit tidur, perubahan pada metabolisme, hilang selera makan, perut mual, tekanan darah dan detak jantung meningkat, gangguan pernapasan, sakit kepala, telapak tangan yang berkeringat, dan gatal-gatal. Secara psikologis, timbul ketidakpuasan kerja yang diikuti dengan adanya tekanan pada emosi seperti cemas, mudah tersinggung atau mudah marah, bad mood, muram, bosan dan sikap kasar. Stres juga bisa berakibat pada perubahan perilaku pekerja, seperti: menurunnya produktivitas, tingkat kehadiran dan komitmen terhadap organisasi. Selain itu juga menghasilkan perilaku seperti merokok atau mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan, agresivitas dalam berbicara atau bertindak, melakukan hal-hal yang mengganggu di tempat kerja, atau sering ditemukan tidur tempat kerja. Stres yang dialami secara terus-menerus dan tidak terkendali, bisa menyebabkan terjadinya burn-out yaitu kombinasi kelelahan secara fisik, psikis dan emosi.
Bagi organisasi, stres di tempat kerja dapat berakibat pada rendahnya kepuasan kerja, kurangnya komitmen terhadap organisasi, terhambatnya pembentukan emosi positif, pengambilan keputusan yang buruk, rendahnya kinerja, dan tingginya turnover. Bahkan stres di tempat kerja pada akhirnya bisa menyebabkan terjadinya kerugian finansial pada organisasi yang tidak sedikit jumlahnya.
Ada tiga kelompok utama pemicu stres (biasa disebut stressor) di tempat kerja. Kelompok pertama adalah faktor pribadi, seperti: keluarga, ekonomi rumah tangga, dan karakteristik kepribadian. Adanya persoalan pada kehidupan pernikahan, perceraian serta anak-anak yang tidak disiplin dan sulit diatur; penghasilan yang kurang mencukupi pemenuhan kebutuhan rumahtangga dan gaya hidup; serta kepribadian yang tertutup, mudah tersinggung, perfeksionis, sangat berorientasi pada waktu dan hasil, merupakan beberapa contoh faktor pribadi yang dapat menjadi pemicu terjadinya stres di tempat kerja.
Kelompok kedua adalah faktor organisasi, seperti: pekerjaan, peran, dan dinamika hubungan atau interaksi antar karyawan. Pekerjaan yang bersifat rutin, monoton, membutuhkan kecepatan dalam pengerjaan, dengan ruang atau lokasi kerja yang bising dan panas; tuntutan peran yang tidak jelas atau bertentangan dengan sistem nilai yang dianut; serta hubungan kerja antar rekan yang tidak cocok, apalagi bila diwarnai dengan adanya konflik mental maupun fisik, merupakan beberapa contoh faktor organisasi yang dapat menjadi pemicu terjadinya stres di tempat kerja. Selain itu juga budaya perusahaan yang sangat menekankan individualisme dan persaingan, struktur organisasi dengan kontrol dan komando yang ketat, kurangnya penguasaan terhadap teknologi yang digunakan, serta perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat di dalam perusahaan.
Sedangkan kelompok ketiga adalah faktor lingkungan, seperti: ekonomi, politik, dan teknologi. Ketidakpastian kondisi politik, krisis ekonomi negara yang berkepanjangan, serta perkembangan teknologi yang mengancam kelangsungan kerja merupakan beberapa contoh faktor lingkungan yang dapat menjadi pemicu terjadinya stres di tempat kerja.


Strategi Menangani Stres di Tempat Kerja

Kemampuan individu dalam menangani stres di tempat kerja berbeda-beda. Dalam menghadapi stressor yang sama, misalnya deadline waktu penyelesaian suatu tugas, tingkat atau konsekuensi stres yang dialami bisa berbeda. Karyawan yang satu bereaksi terhadap stressor tersebut dengan tetap rileks dan fokus. Sedangkan rekannya terlihat panik dan tegang dalam penyelesaian tugas, serta menjadi mudah marah.
Secara individu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan karyawan untuk mengendalikan stres di tempat kerja. Cara tersebut diantaranya adalah dengan menerapkan manajemen waktu, secara rutin melakukan latihan fisik dan mental seperti olahraga dan relaksasi, serta membina jejaring sosial yang luas. Sedangkan secara organisasi, ada lima strategi yang bisa dilakukan perusahaan untuk membantu karyawan menangani stres di tempat kerja. Kelima strategi adalah: menghilangkan stressor atau pemicu stres, menjauhkan karyawan dari stressor, mengubah persepsi karyawan terhadap stressor, mengendalikan konsekuensi dari stres, dan menyediakan dukungan sosial bagi karyawan yang menghadapi stres.
Contoh praktek manajemen stres yang dilakukan perusahaan terkait dengan kelima strategi di atas adalah: konseling klinis dan personal, uraian pekerjaan yang jelas, berolahraga atau berkesenian, keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan dan perubahan di perusahaan, serta program-program yang terkait dengan perbaikan kesehatan karyawan.

Kesimpulannya, minimal ada dua pilihan yang dapat diambil dalam menghadapi stres: to fight or flight. Melawan atau menghindar. Pekerja pemenang adalah mereka yang tidak hanya mampu melawan, tetapi juga mampu mengelola stres di tempat kerja dan menjadikannya sebagai suatu tantangan untuk hasilkan kinerja yang lebih tinggi.


Sumber : Ibu Eva H. Saragih, salah satu staf pengajar di Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Followers